Rabu, 14 November 2018

“The Cost of Quality and Accounting for Production Losses (Job Order Costing)”


“The Cost of Quality and Accounting for Production Losses (Job Order Costing)”

a.      Biaya Mutu (Cost of Quality)

Biaya mutu sering kali disalahartikan karena biaya ini tidak hanya terdiri dari biaya untuk mencapai  mutu namun juga biaya yang terjadi karena kurangnya mutu. Untuk memahami dan meminimalkan biaya mutu maka jenis biaya mutu harus diidentifikasi dan dibedakan.

JENIS-JENIS BIAYA MUTU
1.       Biaya pencegahan (Prevetion cost) adalah biaya yang terjadi untuk mencegah terjadinya kegagalan produk. Biaya ini dikeluarkan untuk mendesain produk dan sistem produksi bermutu tinggi termasuk biaya untuk menerapkan dan memelihara sitem-sistem tersebut.

2.       Biaya penilaian (Appraisal cost) adalah biaya yang terjadi untuk mendeteksi kegagalam produk. Biaya ini terdiri dari biaya inspeksi dan pengujian bahan baku, biaya inspeksi produk selama dan setelah proses produksi serta biaya untuk memperoleh informasi dari pelanggan mengenaai kepuasan mereka terhadap produk.

3.       Biaya kegagalan (failure cost) adalah biaya yang terjadi ketika suatu produk gagal. Kegagalan tsb dapat terjadi secara internal maupun eksternal.
Biaya kegagalan internal adalah biaya yang terjadi selama proses produksi, seperti biaya sisa bahan baku, biaya barang cacat, biaya pengerjaan kembali, dan terhentinya produksi karena kerusakan mesin atau kehabisan bahan baku.
Biaya kegagalan eksternal adalah biaya yang terjadi setelah produk dijual, meliputi biaya untuk memperbaiki dan mengganti produk yang rusak selama masa garansi, biaya untuk menangani keluhan pelanggan dan biaya hilangnya penjualan akibat ketidakpuasaan pelanggan.

b.      Manajemen Mutu Total  (Total Quality Management)
Untuk dapat bertahan di lingkungan bisnis yang kompetitif, suatu perusahaan harus menyediakan produk bermutu dengan harga yg wajar dan menghilangkan mutu yang buruk dengan cara  mengadopsi filosofi manajemen mutu total.

Manajemen mutu total  adalah pendeketan tingkat perusahaan terhadap perbaikan mutu yang berusaha untuk meperbaiki mutu disemua proses dan aktivitas.

Karakteristik TQM:
1.       Tujuan perusahaan bagi semua aktivitas bisnisnya adalah untuk melayani pelanggan
2.       Manajemen puncak memimpin secara aktif dalam perbaikan mutu
3.       Semua karyawan terlibat secara aktif dalam perbaikan mutu
4.       Perusahaan memiliki sistem untuk mengidentifikasi masalah mutu, mengembangkan solusi dan menetapkan tujuan perbaikan mutu.
5.       Perusahaan menghargai karyawannya dan memberikan pelatihan terus-menerus serta pengakuan atas pencapaian.

PERBAIKAN YANG BERKELANJUTAN
Cara terbaik untuk mengurangi biaya mutu total adalah mengurangi kondisi kurangnya mutu. Dengan  menghasilkan produk dalam jumlah banyak sehingga berapapun jumlah unit yang ditolak di akhir proses perusahaan tetap memiliki unit bagus dengan jumlah yang memadai guna memenuhi permintaan.
Namun pendekatan ini memiliki kekurangan:
1.       Pendekatan ini terlalu lambat dalam mendeteksi kerugian produksi
2.       Besarnya biaya dari kerugian produksi semacam ini jarang sekali diukur

Pendekatan yang paling baik untuk memperbaiki mutu adalah dengan berkonsentrasi pada pencegahan yaitu mencari penyebab pemborosan dan inefisiensi kemudia mengembangkan rencana sistematis untuk menghilangkan penyebab-penyebab tersebut.

Tidak ada cara instan untuk mencapai mutu. Menurut W. Edwards Deming, salah satu pelopor dalam gerakan mutu, perbaikan yang tahan lama dalam hal mutu tidak dapat diperoleh dalam satu langkah besar. Sebaliknya ia berpendapat bahwa`perbaikan mutu harus merupakan proses yang terus menerus dari sedikit perbaikan. Ia berargumentasi bahwa perbaikan mutu secara berkelanjutan atau terus-menerus memerlukan usaha konstan dari setiap orang dalam perusahaan.

c.       Definisi Scrap, Spoilage, dan Rework

1.       Akuntansi untuk bahan baku sisa (scrap)
Bahan baku (spoilage) sisa terdiri dari atas:
·         serbuk atau sisa-sisa yang tertinggal setelah bahan baku diproses
·         bahan baku cacat yang tidak dapat digunakan maupundiretur ke pemasok
·         bagian-bagian yang rusak akibat kecerobohan karyawan atau kegagalan mesin

jika bahan baku sisa masih bernilai makan dapat dikumpulkan untuk dijual ke pedagang barang bekas. Namun jika sisanya dari pemotongan, pengikiran atau residu bahan baku maka biayanya munkin tidak mudah untuk ditentukan.

Meskipun begitu tetap dibutuhkan suatu catatan atas jumlah bahan baku sisa tersebut terlepas dari fakta bahwa tidak ada biaya yang dapat dibebankan ke persediaan itu.

Contoh:
Mais manufacturing company mengumpulkan serpihan kayu dari lantai pabrik dan menjualnya secara periodik ke pabrik kertas terdekat. Penjualan bahan baku sisa periode ini totalnya adalah Rp. 150.000. Alternatif akuntansi untuk penjualan ini adalah:

1.       Jumlah yang diakumulasikan di penjualan bahan baku sisa dapat ditutup ke ikhtisar laba rugi dan ditampilkan di laporan laba rugi sebagai penjualan bahan baku sisa atau pendapatan lain-lain.

Pada saat penjualan, dibuat jurnal:

        Kas/Piutang Usaha                                                                          150.000
                        Penjualan Bahan baku sisa/Pendapatan lain-lain                               150.000

2.       Jumlah yang diakumulasikan dapat dikreditkan ke harga pokok penjualan (hpp) sehingga mengurangi total biaya yang dibebankan ke pendapatan penjualan untuk periode tersebut. Mengurangi hpp  menyebabkan peningkatan laba untuk periode tersebut.

Pada saat penjualan, dibuat jurnal:
        Kas/Piutang Usaha                                                                          150.000
                        Harga pokok penjualan                                                                 150.000
3.       Jumlah yang diakumulasikan dapat dikreditkan ke Pengendali Overhead Pabrik sehingga mengurangi biaya overheade pabrik pada periode tersebut. Jika tarif biaya overhead telah ditentukan sebelumnya digunakan untuk membebankan overhead pesanan maka nilai realisasi bersih dari bahan baku yang dioerkirakan untuk periode tsb harus diestimasi dan dikurangkan dari estimasi overhead sebelum tarif overhead dihitung. Hal ini untuk menghindari tarif overhead yang terlalu tinggi.

Pada saat penjualan, dibuat jurnal:
        Kas/Piutang Usaha                                                                          150.000
                        Pengendali Overhead Pabrik                                                      150.000

4.       Jika bahan baku sisa dapat ditelurusi langsung ke pesanan individual, maka jumlah yang direalisasi dari penjualan bahan baku sisa dapat diperlakukan sebagai pengurang biaya bahan baku yang dibebankan pada periode tsb. Biaya bahan baku di kartu biaya pesanan dikurangi dengan nilai bahan bkau sisa.

Pada saat penjualan, dibuat jurnal:
        Kas/Piutang Usaha                                                                          150.000
                        Barang dalam proses                                                                      150.000

Ayat –ayat jurnal tadi mengasumsikan bahwa nilai bahan baku sisa tidak signifikan. Jika ada yang signifikan makan barang dalam proses dikredit dan persediaan bahan baku sisa di debit. Dengan demikian bahan baku sisa dicatat sebagai persediaan sampai terjual.


2.       Akuntansi untuk biaya barang cacat (spoiled goods )

Barang cacat berbeda dengan bahan baku sisa karena barang ini telah selesai diproduksi atau separuh selesai namun cacat dalam hal tertentu. Barang cacat tidak dapat dibetulkan baik secara teknis tidak memungkinkan atau karena tidak ekonomis untuk membetulkannya.

Barang cacat dapat disebabkan karena pelanggan seperti penggantian spesifikasi setelah produksi dimulai atau keharusan memproduksi dalam toleransi yang sangat ketat. Barang cacat juga dapat disebabkan dari internal seperti dari kesalahan karyawan atau usangnya peralatan. Perlakuan akuntansi untukbarang cacat etrgantung pada jenis penyebabnya.

a.       Barang cacat disebabkan oleh pelanggan
Biaya ini tidak boleh dianggap sebagai biaya mutu. Pelanggan sebaiknya membayar jenis barang cacat ini. Baiaya yang tidak tertutup oleh penjualan barang cacat sebaiknya dibebankan ke pesanan tersebut .
Dengan kata lain, nilai sisa (salvage value) dari barang cacat sebaiknya dikeluarkan dari biaya pesanan tetapi biaya yang tidak tertutup oleh nilai sisa tersebut tetap tinggal sebagai biaya pesanan itu.

Contoh:
Mais inc. Memproduksi 1.000 kursi plastik dengan desain khusus untuk Fitri inc. Berdasarkan pesanan no. 50. Setelah mendapat 100 kursi diproduksi , pelanggan mengubah spesifikasi desain. 100 kursi ini tidak dapat digunakan oleh pelanggan dan tidak dapat diperbaiki sehingga dapat diterima oleh pelanggan. Meskipun demikian, mais inc. Dapat menjual 100 kursi tersebut sebagai barang bekas dengan harga $10 perunit sehingga totalnya $1000 (100kursi x $10). Tambahan 100 kursi diprodksi untuk memenuhi pesanan pelanggan sehingga totalnya 1.100 (100 unit cacat dan 1000 unit yang dapat diterima pelanggan).

Total biaya yang dibebankan ke pesanan no.50 adalah:
                Bahan baku                                                                                        $22.000
                Tenaga Kerja                                                                                          5.500
                Overhead Pabrik                                                                                11.000
                Total Biaya pesanan                                                                          38.500

Ayat jurnal untuk mencatat penyelesaian pesanan tersebut dan pengiriman ke pelanggan adalah:

                Persediaan Barat Cacat                                  1.000
                Harga Pokok Penjualan                                                 37.500
                                Barang dalam Proses                                      38.500

Mais biasanya menjual hasil produksinya dengan harga 150% dari biaya. Maka pesanan no.50 ditagihkan ke fitri sebesar $56.250 ($37.500x150%). Ayat jurnal untuk mencatat penagihannya yaitu:
                Piutang Usaha/ Kas                                         56.250
                                Penjualan                                                            56.250

Saat barang cacat dijual:

                Kas/Piutang usaha                                           1000
                                Pesediaan barang cacat                                                 1000

b.      Barang cacat disebabkan oleh kegagalan internal
Jika barang cacat disebabkan kecerobohan karyawan atau usangnya mesin maka biaya yang tidak tertutup dari penjualan barang cacat sebaiknya dibebankan ke Pengendali Overhead Pabrik dan dilaporkan secara periodik kepada manajemen. Jika biaya dari barang cacat cukup besar sehingga dapat mendistorsi biaya produksi yang dilaporkan, maka sebaiknya dilaporkan terpisah sebagai kerugian di laporan laba rugi.

Contoh:
Asumsikan fakta yang sama dari mais inc. Sebelumnya, kecuali bahwa 100 kursi cacat tersebut disebabkan karena adanya cacat dari cetakan plastik. Dalam kasus ini biaya produksi setiap kursi adalah $35 (total biaya pesanan sebesar $38.500 dibagi 1.100 unit). Dengan demikian, total biaya dari barang cacat adalah $3.500 ($35x100unit rusak). Oleh karena kursi rusak dapat dijual $1000 maka biaya yang tidak tertutup adalah $2.500 (3.500-1000). Biaya dari 1000 kursi bagus adalah $35.000 makan harga jualnya $52,500 ($35.000x150%).

Oleh karena barang cacat diakibatkan oleh kegagalan internal maka nilai pendapatan penjualan dan laba menjadi lebih rendah jika dibandingkan kasus barang cacat karena pelanggan.
Ayat jurnal untuk mencatat penyelesaian dan pengiriman pesanan adalah:
                Persediaan Barang Cacat                                              1.000
                Pengendali Overhead Pabrik                                      2.500
                Harga Pokok Penjualan                                                                 35.000
                                Barang dalam Proses                                                      38.500

                Piutang usaha                                                                    52.500
                                Penjualan                                                                            52.500

AKUNTANSI UNTUK BIAYA PENGERJAAN KEMBALI
Pengerjaan kembali (rework) adalah proses untuk membetulkan barang cacat. Seperti barang cacat, rework dapat disebabkan oleh pelanggan maupun dari internal.

a.      Pengerjaan kembali yang disebabkan pelanggan (normal rework attributable to a specific job)

Biaya reworknya dibebankan ke pesanan dan idealnya ditutup oleh peningkatan dalam harga jual ( menggunakan akun wip). Contoh:
Mais inc. Memproduksi 200 trailer dengan desain khusus berdasarkan pesanan no.09 untuk memenuhi permintaan desain pelanggan Fitri corporation. Biaya yang dibebankan ke pesanan no.09 adalah:
       
 Bahan baku                                                                                                       $100.000
Tenaga Kerja ($10/jam x 2.000 jam)                                                           20.000
Overhead dibebankan ($40/jam tenaga kerja langsung)                                  80.000
Total biaya yang dibebankan ke pesanan no.09                                  $200.000

Sebelum traailer dikirimkan, pelanggan memutuskan bahwa trailer tersebut membutuhkan per suspensi yang lebih berat drpd yang telah dipesan dispesifikasi dalam pesanannya. Akibatnya biaya pengerjaan kembali ditambhakan ke pesanan no.09:

Bahan baku ($40/pasang x 200 trailer)                                                    $8.000
Tenaga Kerja ($10/jam x 200 trailer x ½ jam/trailer)                            1.000
Overhead dibebankan ($40/jam x 100 jam)                                            4.000
Total biaya pengerjaan kembali  yang ditambahkan                          $13.000

Ayat jurnal untuk mencatat biaya rework pesanan 09 yaitu:

                Barang dalam proses                                      13.000
                                Bahan baku                                                        8.000
                                Beban gaji                                                           1.000
                                Overhead Pabrik dibebankan                     4.000

Total biaya pesanan no. 09 sekarang menjadi $213.000, terdiri dari $200.000 biaya sebelum pengerjaan kembali plus $13.000 biaya pengenaan kembali. Contoh: mais menagihkan harga jual pesanan dengan markup sebesar 50% atas biaya, maka pesanan no.09 akan dijual senilai 150% dari $213.000 atau sebesar $319.500. saat pesanan no.09 dikirimkan ke pelanggan, dibuatlah jurnal:

                Harga Pokok Penjualan                                                 213.000
                                Barang dalam proses                                      213.000

                Piutang usaha                                                    319.500
                                Penjualan                                                            319.500


b.      Pengerjaan kembali yang disebabkan oleh kegagalan internal  (normal rework common to all jobs)
Biaya rework krn kegagalan internal sebaiknya dibebankan ke pengendali overhead pabrik dan secara periodik dilaporkan ke manajemen. Contoh: sama seperti contoh sebelumnya namun alasan reworknya karena karyawan produksi meminta per yang salah ketika trailer dirakit. Maka:

        Pengendali Overhead Pabri k                                     13.000
                        Bahan baku                                                                                        8.000
                        Beban gaji                                                                                           1.000
                        Overhead Pabrik dibebankan                                                     4.000

Oleh karena biaya rework dibebankan ke overhead pabrik, total biaya pesanan no.09 senilai $200.000 tidak bertambah dan harga jual adalah sebesar 150% dari $200.000 atau sebesar $300.000. saat pesanan dikirimkan ke pelanggan , maka jurnalnya:

        Harga Pokok Penjualan                                                                 200.000
                        Barang dalam proses                                                                      200.000

        Piutang Usaha                                                                   300.000
                        Penjualan                                                                                            300.000


c.       Pengerjaan kembali karena kesalahan internal yang fatal/abnormal (Abnormal Rework)
Karena kesalahan ini sangat besar sehingga tidak dapat dibebankan ke setiap job yang bisa membuat harganya sangat mahal. Sehingga disini kita menggunakan akun “Loss from Abnormal Rework”

Jurnalnya:
                Loss from Abnormal Rework                       13.000
                                Bahan baku                                                        8.000
                                Beban gaji                                                           1.000
                                Overhead Pabrik dibebankan                     4.000


        Tambahan:
Dari penjelasan diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa perbedaan sebab barang cacat akan mempemgaruhi penjurnalan. Ringkasnya:

1.       Terdapat dua tipe spoilage yaitu:
a.       Normal spoilage: Barang yang rusak diakibatkan karena proses produksinya bukan karen human error. Contoh: kerusakan mesin yg sdh lama dipakai.
Jurnalnya menggunakan akun COGS.
b.      Abnormal  Spoilage: Barang yang rusak karena adanya human error. Jurnlanya menggunakkan akun Loss from abnormal spoilage.

2.       Dalam Job Costing untuk scrap, spolage dan rework terdapat 3 jenis yaitu:
a.       Normal Specific Job : Menggunakan akun WIP
b.      Normal common to all job: Menggunakan akun Overhead
c.       Abnormal : Menggunakan akun Loss from Abnormal
Sekian dulu ya resumenya, semoga bermanfaat ^^
Wassalamu’alaikum wr wb.

Sabtu, 06 Oktober 2018

RESUME PERTEMUAN 5 dan 6 “PROCESS COSTING”

RESUME PERTEMUAN 5 dan 6
“PROCESS COSTING”

Konsep dasar dan Karakteristik terkait metode proses

Process Costing merupakan cara penentuan harga pokok dimana biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk mengolah produknya secara massa. Process costing cocok untuk industri yang memproduksi produk homogen dan di mana produksi aliran kontinu. Sebuah proses dapat disebut sebagai sub-unit organisasi khusus yang ditetapkan untuk biaya pengumpulan tujuan.

Dalam metode ini, biaya produksi dikumpulkan untuk setiap proses selama jangka waktu tertentu, dan biaya produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya produksi dalam proses tertentu, selama periode tertentu, dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dari proses tersebut selama jangka waktu yang bersangkutan.

Metode biaya proses digunakan untuk barang-barang yang diproduksi melalui pengolahan yang berkesinambungan atau melalui proses produksi massal. Keadaan seperti ini terdapat dalam perusahaan industri yang menghasilkan komoditi seperti plastik, minyak bumi, tekstil, baja, gandum, dan gula.
Metode biaya proses juga digunakan oleh perusahaan yang memproduksi barang-barang seperti sekrup, alat-alat elektronik ringan, dan oleh industri perakitan (mobil, pesawat terbang, dan perkakas rumah tangga). Beberapa perusahaan umum (gas, air minum, dan listrik) juga mengkalkulasi biaya produksinya dengan metode biaya proses.


Karakteristik dari kalkulasi biaya proses adalah:
Biaya dibebankan ke perkiraan barang dalam proses pada setiap departemen.
Laporan biaya produksi digunakan untuk mengumpulkan, mengikhtisarkan, dan menghitung biaya per unit dan biaya total.
Barang dalam proses pada akhir periode akan dinilai kembali dalam satuan unit ekuivalen (artinya, dihitung berapa unit barang jadi yang setara dengan barang dalam proses tersebut).
Biaya-biaya dari unit-jadi pada suatu departemen akan ditransfer ke departemen pengolahan berikutnya agar pada akhirnya dapat diketahui biaya total untuk barang jadi selama satu periode, dan biaya yang harus dibebankan ke barang dalam proses.


Proses Produksi menggunakkan metode proses – Weighted Average Method

Dalam metode ini, harga pokok persediaan produk dalam proses awal ditambahkan kepada biaya produksi sekarang, dan jumlahnya kemudian dibagi dengan unit ekuivalensi produk untuk mendapatkan harga pokok rata- rata tertimbang, harga ini kemudian digunakan untuk menentukan harga pokok produk jadi yang ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang dengan cara mengalikannya dengan jumlah kuantitasnya.

Contoh Kasus
Sebuah perusahaan yang menerapkan metode harga pokok proses, memberikan data yang berkaitan dengan proses produksi selama bulan Januari 2007 sbb :
Jumlah produk dalam proses pada awal bulan 2.000 unit
Jumlah produk yang masuk proses 15.000 unit
Jumlah produk jadi 13.000 unit
Jumlah produk dalam proses pada akhir bulan 4.000 unit, dengan tingkat penyelesaian : bahan baku 75%; upah langsung 50%; dan overhead 60%
Nilai persediaan awal produk dalam proses Rp. 352.000,00 yang terdiri dari :
Bahan baku Rp.  200.000,00
Upah Langsung Rp.    80.000,00
BOP Rp.    72.000,00
Jumlah biaya sebenarnya selama bulan tersebut :
Bahan baku Rp. 1.480.000,00
Upah langsung Rp. 1.090.000,00
BOP Rp.    898.200,00
Hitunglah nilai persediaan produk jadi dan nilai persediaan akhir produk dalam proses dengan menggunakan metode rata-rata
Penyelesaian

Data produksi :

Jumlah produk dalam proses awal   2.000 unit
Jumlah yang dimasukkan dalam proses 15.000 unit
Total yang siap diproses 17.000 unit
Produk jadi ditransfer ke gudang 13.000 unit
Produk dalam proses akhir   4.000 unit


Perhitungan biaya produksi per unit :

Unsur BP
Biaya pada PDP
Biaya produksi periode ini
Total Biaya
Unit Ekuivalensi
BP Perunit

Biaya BB
Biaya TKL
Biaya OP
Rp.   200.000
  80.000
  72.000
Rp.     1.480.000
1.090.000
   898.200
Rp.   1.680.000
1.170.000
   970.200
16.000
15.000
15.400
  Rp.     105
  78
  63

Jumlah
Rp.   3.820.200

Rp.     246


Perhitungan HPP selesai dan persediaan produk dalam proses :

HPP selesai yang ditransfer ke gudang
13.000 * Rp. 246

Rp.   3.198.000

Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir :

Biaya BB
Biaya TKL
Biaya OP
4000 * 75% * 105 = 
4000 * 50% * 78   =
4000 * 60% * 63   =
315.000
156.000
151.200



            622.200

Jumlah biaya produksi bulan Januari 2007

Rp.   3.820.200



Proses produksi menggunakkan metode proses - FIFO

Metode ini menganggap biaya produksi periode sekarang pertama kali digunakan untuk menyelesaikan produk yang pada awal periode masih dalam proses (belum selesai diproses), kemudian sisanya digunakan untuk mengolah  produk yang dimasukkan dalam proses dalam periode sekarang. Oleh karena itu, dalam perhitungan unit ekuivalensi, tingkat penyelesaian persediaan produk dalam proses awal harus diperhitungkan.

Contoh Kasus

Sebuah perusahaan yang menerapkan metode harga pokok proses, memberikan data yang berkaitan dengan proses produksi selama bulan April 2007 sbb :
Jumlah produk yang masih dalam proses pada awal bulan 20.000 unit, dengan tingkat penyelesaian : bahan baku 90%; upah langsung 70%; dan overhead 80%
Produk yang masuk proses selama bulan tersebut 60.000 unit.
Jumlah produk jadi 65.000 unit.
Jumlah produk yang masih dalam proses pada akhir bulan 15.000 unit, dengan tingkat penyelesaian : bahan baku 100%; upah langsung 60%; dan overhead 75%
Nilai persediaan awal produk dalam proses Rp. 858.000,00
Jumlah biaya sebenarnya selama bulan tersebut :
Biaya bahan baku Rp. 1.302.000,00
Biaya tenaga kerja lgs Rp. 1.020.000,00
BOP Rp. 1.205.000,00
Hitunglah nilai persediaan produk jadi dan nilai persediaan akhir produk dalam proses dengan menggunakan FIFO costing

Penyelesaian

Data produksi :
Jumlah produk dalam proses awal 20.000 unit
Jumlah yang dimasukkan dalam proses 60.000 unit
Total yang siap diproses 80.000 unit
Produk jadi ditransfer ke gudang 65.000 unit
Produk dalam proses akhir 15.000 unit

Perhitungan unit ekuivalensi dengan metode MPKP (FIFO) :


Biaya BB
Biaya TKL
Biaya OP


Persediaan produk dalam proses awal
Produk selesai
Produk dalam proses akhir


  2.000 *)
45.000
15.000

  6.000
45.000 **)
  9.000

  4.000
45.000
11.250 ***)

Jumlah unit ekuivalensi
62.000
60.000
60.250


Keterangan :
*)    Jumlah produk dalam proses awal * (100% - tingkat penyelesaian produk dalam proses awal)
       20.000 unit * (100% - 90%) = 2.000 unit

**)   Jumlah Produk yang ditransfer – jumlah produk dalam proses awal
       65.000 unit – 20.000 unit = 45.000 unit

***) Jumlah produk dalam proses akhir * tingkat penyelesaian produk dalam proses akhir
       15.000 unit * 75% = 11.250 unit
Perhitungan biaya produksi per unit dengan metode FIFO  :

Unsur BP
Total Biaya
Unit Ekuivalensi
BP Perunit


Biaya BB
Biaya TKL
Biaya OP


1.302.000
1.020.000
1.205.000

62.000
60.000
60.250

21
17
20

Jumlah
Rp.  3.527.000
-
Rp.        58


Perhitungan HPP selesai dan produk dalam proses :


HPP selesai yang ditransfer ke gudang :


   Harga pokok persediaan produk dalam proses awal :
       
Biaya penyelesaian produk dalam proses awal :

Rp.       858.000


Biaya BB
Biaya TKL
Biaya OP
10% * 20.000 * 21  =
30% * 20.000 * 17  =
20% * 20.000 * 20  =
    42.000
  102.000
    80.000



              224.000





  1.082.000

Harga pokok produk dari produksi sekarang
        45.000 * Rp. 58

Harga pokok selesai yang ditransfer ke gudang

Harga pokok produk dalam proses akhir :

             2.610.000

Rp.    3.692.000


Biaya BB
Biaya TKL
Biaya OP
100% * 15.000 * 21 =
  60% * 15.000 * 17 =
  75% * 15.000 * 20 =
  315.000
  153.000
  225.000



       693.000

Jumlah biaya bulan April 2007

Rp.    4.385.000




PENJURNALAN MENGGUNAKKAN METODE PROSES

Biaya Bahan (BB)
Biaya bahan terdiri dari bahan baku dan bahan penolong.
Jurnal :
Mencatat pembelian bahan

Persediaan bahan baku                        Rp xx              –
Persediaan bahan penolong                 Rp xx              –
Kas/utang dagang                               –           Rp xx

Pada saat bahan dipakai dalam proses produksi

(Mencatat pemakaian bahan baku)

BDP-BBB                                           Rp xx              –
Persediaan bahan baku                        –           Rp xx
Keterangan: BDP-BBB singkatan dari Barang dalam proses-Biaya bahan baku
(Mencatat pemakaian bahan penolong)

BDP-BB Penolong                             Rp xx              –
Persediaan bahan penolong                 –           Rp xx
Biaya Tenaga Kerja (BTK)
Biaya tenaga kerja terdiri dari biaya tenaga kerja langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung.
Jurnal daftar gaji dan upah:
Gaji dan upah                                      Rp xx              –
Utang gaji dan upah                            –           Rp xx

Jurnal gaji dan upah dibebankan kepada produk (akhir periode) :
BDP-BTK                                           Rp xx              –
Gaji dan upah                                      –           Rp xx
Biaya Overhead Pabrik
Semua biaya produksi selain biaya bahan dan biaya tenaga kerja disebut biaya overhead pabrik (BOP). Jika perusahaan hanya memproduksi satu jenis produk, maka BOP dibebankan kepada produk berdasarkan jumlah pengeluaran BOP yang sesungguhnya.

Jurnal pencatatan BOP:
BOP sesungguhnya                             Rp xx              –
Berbagai rekening dikredit                 –           Rp xx
(Jika jenis BOP tidak disebutkan satu persatu)

Jurnal BOP dibebankan kepada produk:
BDP – BOP                                        Rp xx              –
BOP sesungguhnya                             –           Rp xx
(Mencatat pembebanan BOP)

Jurnal pemindahan rekening produk selesai ke persediaan produk jadi:
Persediaan produk jadi                       Rp xx              –
BDP-BBB                                           –           Rp xx
BDP-BB Penolong                             –           Rp xx
BDP-BTK                                           –           Rp xx
BDP-BOP                                           –           Rp xx
(Mencatat produk jadi)

Jurnal persediaan akhir barang dalam proses:
Persediaan barang dalam proses         Rp xx              –
BDP-BBB                                           –           Rp xx
BDP-BB Penolong                             –           Rp xx
BDP-BTK                                           –           Rp xx
BDP-BOP                                           –           Rp xx
(Mencatat produk dalam proses pada ahir periode)

Rabu, 03 Oktober 2018

Resume Pertemuan 4

“JOB ORDER COSTING”

Konsep dasar dan karakteristik terkait metode pemesanan

Dalam job order costing (job costing) biaya produksi
akan diakumulasikan terpisah untuk setiap pesanan
(job).

Hal ini berbeda dengan bentuk process costing,
dimana pada proses ini seluruh biaya diakumulasikan
untuk satu kegiatan produksi, misalnya untuk setiap
departemen.

Setiap pesanan produk yang menggunakan job order costing, harus
dapat diidentifikasikan secara terpisah. 
• Selain dari itu, rincian setiap pesanan akan tercatat ke dalam job
order cost sheet (cost sheet).
• Isi dan susunan cost sheet antara satu perusahaan dengan
perusahaan lain dapat berbeda. 


Pencatatan akuntansi yang dibutuhkan untuk job order costing meliputi 8 (delapan) tipe jurnal akuntansi, yaitu:

1. Pembelian bahan baku (Material)
2. Biaya Tenaga Kerja yang dibutuhkan (Labor)
3. Biaya Overhead yang dibutuhkan
4. Bahan baku yang terpakai
5. Biaya Tenaga Kerja yang terpakai
6. Perkiraan biaya overhead pabrik yang digunakan
7. Pesanan selesai
8. Penjualan produk

Pencatatan Akuntansi untuk Bahan Baku
• Pembelian bahan baku.
• Pencatatan pembelian bahan baku serupa dengan
pencatatan persediaan berdasarkan sistem perpetual.

Material     XXX
 Account Payable    XXX…. (1)

Bahan Baku yang terpakai/digunakan
• Untuk pencatatan penggunaan material,
sebelumnya harus dapat dipisahkan mana yang
merupakan direct material maupun indirect
material. 
• Direct material dihitung berdasarkan materials
requisitions (dokumen permintaan material).
• Pencatatan direct material ini akan dipisahkan
dengan indirect material.

• Mencatat penggunaan direct material
Work in Process   XXX
  Material      XXX….. (2)

• Mencatat penggunaan indirect material
Factory Overhead Control XXX
  Material      XXX…. (3)


Pencatatan Akuntansi untuk Tenaga Kerja
Biaya Tenaga Kerja yang terjadi
• Dilakukan untuk mencatat perkiraan payroll yang
terjadi untuk setiap periodenya.

Payroll     XXX
 Accrued Payroll    XXX…. (4) 


Biaya Tenaga Kerja yang didistribusikan
• Sama halnya dengan perlakuan pada bahan baku,
untuk pencatatan pada tenaga kerja juga diperlukan
pemisahan antara direct labor cost dengan indirect
labor cost. 

• Direct labor cost berdasarkan labor time tickets
(dokumen yang menunjukkan waktu kerja tiap pekerja
pada satu job).

• Mencatat direct labor cost
 Work in Process   XXX
 Payroll      XXX…. (5)

• Mencatat indirect labor cost
 Factory Overhead Control  XXX
 Payroll      XXX…. (6)


Estimasi Pemakaian Overhead Pabrik

• Sebagian biaya overhead baru bisa dihitung pada
akhir periode (listrik, air)
• Pembebanan biaya overhead untuk produk harus
segera dilakukan 
• Solusi: overhead pabrik yang terpakai dihitung dengan
menggunakan tarif (predetermined overhead). 

• Tarif dihitung berdasarkan estimasi biaya overhead selama
satu tahun dibagi cost driver (base)
• Cost driver adalah aktivitas yang memicu timbulnya biaya
• Misalnya aktivitas produksi yang diukur dengan jumlah jam
kerja (direct labor hours), jam mesin (machine hours),
biaya material yang dipakai.
• Dipilih yang paling erat hubungannya dengan biaya
overhead

• kerja langsung, jam mesin dan lain-lain. 
• FOH yang dibebankan ke dalam suatu pesanan disebut applied overhead, dan dapat dicatat sebagai berikut:
Work in Process    XXX
  Applied Factory Overhead   XXX…. (7)

Pencatatan untuk Overhead Pabrik aktual
• Biaya Overhead Pabrik yang terjadi dicatat pada akun
Factory overhead control

Factory Overhead Control  XXX
  Accumulated Depreciation    XXX
  Prepaid Insurance    XXX
  Account Payable      XXX…. (8)

Penutupan Akun “Factory Overhead
Applied”
• Pada akhir tahun akun Factory Overhead Applied
ditutup ke akun Factory Overhead Control sebagai
berikut:

  Applied Factory Overhead   XXX
  Factory Overhead Control   XXX…. (10)
 
• Kondisi overhead “underapplied” (applied FOH < FOH aktual)
dapat dikategorikan sebagai unfavorable cost variance

• Kondisi overhead “overapplied” (applied FOH > FOH aktual)
dapat dikategorikan sebagai favorable cost variance

• Apabila jumlahnya kecil ditutup ke COGS (pembahasan
lanjutan di Chapter 12 Carter)
 

Pencatatan Akuntansi untuk Pesanan yang
telah Selesai
• Apabila pesanan yang dipesan telah selesai di
produksi, maka proses selanjutnya adalah
mengakumulasikan seluruh biaya yang telah terjadi
pada proses produksi untuk dicatat dalam bentuk
“Finished Goods”.

Finished Goods   XXX
  Work in Process    XXX…. (11)

Pencatatan Akuntansi untuk Produk yang
Terjual 
• Seluruh produk yang telah selesai di produksi dapat
berarti terjual seluruhnya, atau ada beberapa bagian
yang ditahan sebagai bentuk persediaan pada
perusahaan. 

Account Receivable    XXX 
 Sales        XXX…. (12)

Cost of Goods Sold     XXX
  Finished Goods      XXX…. (13) 

Sekian resume pertemuan 4 kali ini, semoga bermanfaat. Wassalamualaikum wr wb ^^
Pertemuan 3
An Introduction to Cost Terms and Purposes
Definisi Cost Object
Untuk memandu keputusan yang akan dibuatnya, manajer ingin mengetahui berapa biaya suatu hal seperti biaya produk, mesin ,layanan, ataupun proses. Kita menyebut hal ini sebagai Objek Biaya (Cost Object), untuk menunjukkan sesuatu yang biayanya ingin diukur.

Sehingga Pengertian Objek Biaya adalah setiap item, seperti produk,Pelanggan, departmen, proyek, aktifitas, dsb dimana biaya diukur dan dibebankan.
Contohnya :Pensil  adalah cost object jika anda menentukan berapa harga pokok pensil tsb.
Cost object atau tujuan biaya (cost objective) adalah suatu item atau aktivitas yang biayanya diakumulasi dan diukur.
Objek biaya adalah objek apapun, seperti :
Produk;
Pesanan Pelanggan;
kontrak
departemen;
proyek;
aktivitas;
proses;
tujuan strategi.

Konsep Cost Object merupakan ide yang paling berkaitan dengan akuntansi. Penyeleksian cost object menentukan jawaban yang mendasar tentang biaya. Mengapa?
Karena kebutuhan dalam menemukan biaya, merencanakan dan mengendalikan, sistem akuntansi biaya merupakan sistem multidimensi. Sebagai contoh, Perlunya menetapkan biaya pada setiap unit produk dan juga perlu untuk merencanakan dan mengendalikan biaya untuk setiap manajer yang memiliki tanggung jawab dalam departemen, letak geografi atau basis fungsi. Desain dari sistem akuntansi biaya dari implementasinya harus memperhatikan kebutuhan yang beragam ini.

Definisi Direct Cost dan Indirect Cost
Biaya dapat secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan objek  biaya. Objek biaya dapat berupa apa pun,  seperti produk,  pelanggan, departemen  proyek, aktivitas,  dan sebagainya,  yang diukur biayanya dan dibebani biaya. Pembebanan biaya secara akurat ke objek biaya sangatlah penting. Untuk dapat mengevaluasi kinerja dari masing-masing segmen dengan baik, perlu diketahui biaya-biaya mana yang dapat ditelusuri secara langsung ke suatu segmen.

Berdasarkan penelusuran ke objek biaya, biaya dikelompokan menjadi dua kategori yaitu biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung (indirect cost):

Biaya langsung adalah biaya yang dapat dipisahkan dan dikenali secara langsung digunakan untuk memproduksi suatu satuan output. Contoh biaya langsung dalam mobil yaitu Ban, Kulit, Cat, Baja dan tenaga kerja di lini produksi.

Biaya tak langsung adalah biaya gabungan (joint cost) atau biaya – biaya overhead untuk semua satuan output yang diproduksi. Contoh biaya tidak langsung adalah gaji, lem, tenaga kerja kebersihan dan eksekutif perusahaan.



Cost Systems dan Accumulation (physical flow dan cost flow)
Sistem biaya proses dirancang untuk menetapkan biaya ke sejumlah besar produk homogen yang melewati serangkaian proses. , suatu proses adalah serangkaian kegiatan (operasi) yang terhubung untuk melakukan tujuan tertentu.

Arus Biaya:
Aliran biaya dalam sistem biaya proses dilacak dan diakumulasi oleh proses. Setiap proses, dengan demikian, akan memiliki akun WIP terpisah untuk melacak biaya produksi.
Ketika barang diselesaikan dalam satu proses, mereka ditransfer dengan biaya mereka untuk proses selanjutnya.
 Biaya yang ditransfer dari proses sebelumnya ke proses selanjutnya disebut sebagai biaya yang ditransfer . Biaya barang yang ditransfer ke dalam suatu proses dapat dianggap sebagai suatu jenis biaya “bahan mentah” yang ditambahkan pada awal proses.