Senin, 10 Desember 2018

RESUME “Factory Overhead Departementalization”


RESUME
“Factory Overhead Departementalization”

a.  Konsep dasar Factory Overhead
Overhead pabrik pada umumnya didefinisikan sebagai bahan baku tidak langsung, tenaga kerja tidak langsung dan semua biaya produksi yang tidak dapat dengan mudah diidentifikasikan dengan atau dibebankan langsung ke pesanan, produk, atau objek biaya lain tertentu.
            Departementalisasi factory overhead bermakna memilah-milah pabrik menjadi beberapa departemen.  Departemen-departemen yang dibentuk mendapat alokasi factory overhead. Hal ini membuat perhitungan biaya produksi menjadi lebih baik. Selain itu, dapat meningkatkan pengendalian terhadap factory overhead cost.
•       Peningkatan kualitas perhitungan biaya produk dimungkinkan karena tiap-tiap departemen bisa menerapkan tarif factory overhead yang berbeda-beda.
•       Sebuah produk yang diproses di suatu departemen mendapatkan alokasi factory overhead dari departemen tersebut.
•       Dengan demikian suatu produk mendapat alokasi factory overhead sesuai dengan departemen yang dilalui.
•       Tiap-tiap departemen membebankan factory overhead sesuai dengan tarif masing-masing.
•       Lebih baik dalam perhitungan biaya produk daripada alokasi factory overhead dengan satu tarif dari pabrik.
•       Karena tidak semua jenis produk melalui tahapan yang sama dalam proses produksinya.
•       Ada produk yang melalui semua departemen, ada juga yang tidak melalui semua departemen yang ada di pabrik.
•       Apabila diterapkan satu tarif factory overhead, maka tarif tersebut terlalu tinggi untuk produk yang tidak diproses melalui semua departemen.
•       Departementalisasi memfasilitasi responsibility accounting dan pengendalian factory overhead cost karena cost menjadi tanggung jawab tiap-tiap manajer departemen.
•       Departementalisasi menuntut dibuatnya estimasi atau anggaran (budget) factory overhead cost tiap-tiap departemen sehingga evaluasi terhadap efisiensi factory overhead cost bisa dilakukan di departemen masing-masing.

b.   Actual FOH dan Applied FOH
Actual FOH= akun FOH Control

c.   Konsep dasar departemensalisasi

Departementalisasi dari overhead pabrik berarti membagi pabrik kedalam segmen-segmen yang disebut departemen, yang menjadi tujuan pembebanan biaya overhead. Untuk tujuan akuntansi, pembagia suatu pabrik ke departemen2 yg terpisah menghasilkan perhitungan biaya produksi yg lebih baik dan meningkatkan pengendalian yang bertanggung jawab atas biaya overhead.

d.   DEPARTEMEN PRODUKSI & DEPARTEMEN JASA

Departemen produksi adalah departemen yang memproses produk dengan mengubah atau merakit material.
Contoh: departemen pemotongan, perakitan, pencampuran, penyelesaian, dan pembotolan.
Departemen jasa menyediakan layanan yang berkontribusi secara tidak langsung ke proses produksi.
Contoh: departemen pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pemeliharaan, pengendalian produksi, keamanan, pengiriman, kesehatan, sumber daya manusia, dan kantin.

e.   BIAYA DEPARTEMEN LANGSUNG (direct departement cost)
•       Adalah factory overhead cost yang dapat ditelusuri ke departemen tertentu.
•       Sebagian besar dapat diklasifikasikan menjadi:
(a) supervisi, indirect labor, dan lembur,
(b) fringe benefit,
(c) indirect material dan supplies,
(d) reparasi dan pemeliharaan, dan
(e) depresiasi dan sewa.

f.   BIAYA DEPARTEMEN TIDAK LANGSUNG (indirect departement cost)
•       Adalah biaya yang terpakai oleh beberapa departemen.
•       Meliputi biaya listrik, sewa dan depresiasi.
•       Harus dialokasikan secara proporsional ke departemen-departemen yang mendapaf manfaat.
•       Alokasi yang paling baik berdasarkan ukuran pemakaian biaya oleh departemen masing-masing.
•       Kalau tidak bisa, gunakan ukuran output.
•       Kalau tidak bisa juga, gunakan ukuran yang mencerminkan pemakaian biaya oleh tiap-tiap departemen.

Contoh basis alokasi biaya departemen tidak langsung:
Biaya departemen tidak langsung                         Dasar alokasi  
•       Sewa gedung                                                                Luas lantai       
•       Depresiasi gedung                                                         Luas lantai       
•       Asuransi kebakaran                                                      Luas lantai       
•       Pemeliharaan gedung                                                    Luas lantai       
•       Superintendence                                                          Jumlah pegawai           
•       Telepon                                                                        Jumlah pegawai atau jumlah telepon    
•       Listrik (fixed portion)                                                 Luas lantai       

g.  Penghitungan Tarif FOH Departemen
Distrbusi biaya departemen jasa ke departemen produksi bisa menggunakan
  1. metode langsung (direct method),
  2. metode bertahap (step method), atau
  3. metode simultan (simultaneus method).

1.  METODE LANGSUNG (direct method)

•       Biaya departemen jasa dialokasikan hanya ke departemen produksi.
•       Metode ini sederhana, tetapi mengabaikan alokasi suatu departemen jasa ke departemen jasa lain.
•       Dengan demikian metode tidak menghitung total cost departemen jasa dengan akurat.
•       Metode ini dibenarkan apabila hasilnya tidak berbeda secara signifikan dengan metode lain.

2.  Metode Bertahap (step method)

•       Metode bertahap mengalokasikan biaya departemen jasa secara bertahap berdasarkan urutan tertentu yang sudah ditentukan.
•       Metode ini juga dikenal sebagai sequential method.
•       Departemen jasa mendapat alokasi biaya dari departemen jasa lain.
•       Apabila biaya suatu departemen jasa sudah dialokasikan ke departemen lain, maka departemen jasa tersebut tidak akan diperhitungkan lagi pada tahap selanjutnya.

•       Urutan alokasi biaya departemen jasa sangat krusial, karena perbedaan urutan alokasi akan menghasilkan alokasi biaya yang berbeda.
•       Urutan alokasi dimulai dari departemen jasa yang yang paling banyak memberikan manfaat kepada departemen lain dan menerima paling sedikit manfaat dari departemen lain.
•       Pendekatan lain adalah berdasarkan urutan nilai rupiah biaya departemen jasa.

3.    Metode Simultan

•       Kelemahan metode bertahap: tidak dapat memperhitungkan secara keseluruhan apabila departemen jasa memberikan jasa kepada departemen jasa lain secara timbal balik.
•       Kelemahan ini disempurnakan dengan metode simultan.
•       Pada metode simultan semua hubungan timbal balik antar departemen jasa diperhitungkan dalam alokasi biasa departemen jasa.
•       Metode ini menggunakan perhitungan Aljabar, oleh karena itu, metode ini juga disebut sebagai metode Aljabar.


Metode Alokasi Biaya-Biaya Support
Penentuan atas metode alokasi biaya tergantung dari kebutuhan perusahaan serta apakah alokasi tersebut bersumber dari satu departemen penunjang atau dari banyak departemen penunjang.

1)      Metode Alokasi Biaya Dari Satu Departemen Penunjang
Menurut Hansen dan Mowen dalam bukunya Cost Management Accounting and Control  (2005) metode alokasi biaya dari satu departemen penunjang terdiri atas:

a)      Single Rate Method / Dual Rate Method
Metode alokasi biaya single-rate-cost mengelompokkan semua biaya dalam satu biaya pool dan mengalokasikan ke objek biaya dengan menggunakan tariff per unit yang sama dari single allocation base.

Sedangkan dalam metode dual-rate-cost, metode ini akan mengelompokkan dulu semua biaya pool menjadi dua sub biaya pool (variable-cost sub pools & fixed cost pool). Kemudian akan ditentukan basis alokasi dan tarif per unit alokasi yang berbeda untuk jenis biaya tetap dan jenis biaya variable.

Keuntungan menggunakan metode alokasi single rate ini adalah mudah dalam pelaksanaannya. Sedangkan keuntungan dari penggunaan metode dual rate adalah dapat memberikan indikasi atau sinyal kepada manajemen tentang bagaimana biaya variable dan biaya tetap akan bereaksi secara berbeda.

b)      Budgeted Rate Or Actual Rate
Dengan menggunakan metode budget rate, pengguna jasa dari departemen tersebut dapat mengetahui lebih awal estimasi atas biaya-biaya yang ditagihkan tersebut. Keuntungan lainnya yakni membantu memotivasi manajer untuk memperbaiki kinerja efisiensi. Kelemahannya bahwa manajer atas departemen dimana biayanya  akan dialokasikan tidak mempunyai gambaran atas tarif yang digunakan pada periode tersebut. Sebaliknya ketika metode biaya actual digunakan, manajer tersebut juga tidak mengetahui rate/tarif yang digunakan sampai dengan akhir periode akuntansi.

Rabu, 05 Desember 2018

CHAPTER 10
JUST-IN-TIME AND BACKFLUSHING

Just-In-Time (JIT)
adalah filosofi pengurangan biaya melalui peng-eliminasi-an persediaan (raw material, WIP & finished good)  sehingga biaya penyimpanan berkurang ( stockless production / clean production / zero inventory production (ZIP).
Bagaimana caranya? Raw material harus sampai di pabrik saat diperlukan dan Produk harus selesai saat diperlukan oleh pembeli.

Backflushing = backflush costing = backflush accounting
Diterapkan pada perusahaan yang menggunakan JIT dimana proses produksi sangat singkat sehingga akuntansi tradisional (job order costing / process costing) menjadi tidak praktis karena memelihara akun Work in Proces.

Jika proses produksi sangat singkat maka tidak perlu memelihara akun Work in Process karena nilainya kecil (bisa dihitung melalui observasi pada akhir periode).
Tujuan: mengurangi jumlah event (peristiwa) yang diukur dan dicatat.
Analogi: pencatatan persediaan dengan system perpetual vs periodic.

A. Sistem perpetual


Akun persediaan dipelihara (di-update apabila ada penambahan / pengurangan).
Saldo persediaan dan COGS dapat diketahui setiap saat.

B. Sistem periodic

Akun persediaan tidak dipelihara (tidak di-update apabila ada penambahan / pengurangan).
Saldo persediaan dihitung pada akhir periode dengan penghitungan fisik.
COGS = persediaan awal + pembelian  persediaan akhir.


1.  tradisional (job order/process costing)

Akun WIP dipelihara (di-update apabila ada penambahan / pengurangan).
Saldo WIP dan COGS dapat diketahui setiap saat.

2. Backflushing

Akun WIP tidak dipelihara (tidak di-update apabila ada penambahan / pengurangan).
Saldo WIP dan COGS dihitung pada akhir periode.


Mohon maaf segini dulu ya 🙏

Materials n Labor

BAB 9 & 11
Carter edisi 14
Materials & Labor

Pembelian Materials
Departemen Pembelian:
Menerima bukti permintaan pembeliaan atas Bahan baku, perlengkapan dan peralatan.
Menyimpan informasi mengenai sumber pasokan, harga, dan jadwal pengapalan serta pengantaran.
Membuat dan menempatkan pesanan pembelian
Mengatur pelaporan diantara departemen pembelian, penerimaan dam akuntansi.

Biaya perolehan material
Pada umumnya material dinilai sebesar harga yang dibayar kepada penjual.
Acqusition  costs (mulai order pembelian s.d. pencatatan) di catat sebagai factory overhead.

Diskon
Trade discount dan quantity discount tidak dicatat (dicatat net-nya).
Cash discount di catat kredit pada akun Cash Discount.

Freight-In (ongkos angkut masuk)
Dialokasikan ke material berdasarkan harga, berat, atau faktor lain.
Di catat dalam akun freight in.  Apabila ada permintaan material untuk produksi maka freight in dialokasikan ke WIP (direct material) atau FOH control (indirect material).  Saldo freight in pada akhir tahun dibebankan ke COGS atau dialokasikan ke COGS dan ending inventory.
Di catat dalam akun freight in dan Freight-in dimasukkan ke akun FOH control. 

Chapter 20
Inventory Management
Horngren edisi 15
DEFINISI
Purchasing Cost: Biaya barang yang diperoleh dari pemasok, termasuk biaya pengiriman. Biaya-biaya ini biasanya merupakan kategori barang dengan biaya terbesar di Inventory. Diskon untuk berbagai ukuran pembelian dan persyaratan pembayaran mempengaruhi biaya pembelian (Purchasing cost).

Oredering Cost: Biaya menyiapkan dan mengeluarkan pesanan pembelian, menerima dan memeriksa barang-barang yang termasuk dalam pesanan dna faktur pencocokan yang diterima, pembelian pesanan dan catatan pengirimana untuk melakukan pembayaran. Ordering cost termasuk biaya untuk memperoleh persetujuan pembelian, serta biaya pemrosesan khusus lainnya.

Carrying Cost: Biaya yang timbul saat barang disimpan dalam persediaan. Carrying cost ini termasuk biaya peluang investasi yang terikat dalam pesediaan dan biaya yang terkait dengan penyimpanan seperti ruang sewa, asuransi, dan keusangan.

Stock Out Costs: Biaya yang muncul ketika sebuah perusahaan kehabisan barang tertentu untuk yang ada permintaan pelanggan. Perusahaan harus bertindak cepat dalam mengisi persediaan untuk memenuhi permintaan itu atau menanggung biaya untuk tidak memenuhi permintaan tersebut.

Cost of Quality: Biaya yang dikeluarkan untuk mencegah dan menilai atau biaya yang timbul sebagai hasil dari masalah kualitas. Masalah ini bisa muncul karena produk cacat/rusak.Seperti bab sebelumnya, ada 4 kategori dalam biaya kualitas yaitu: Prevetion cost, Aprraisal cost, Internal dan External failure cost.

Shrinkage Cost (Biaya Penyusutan): Biaya ini dihasilkan dari pencurian oleh pihak luar, penggelapan oleh karyawan, misklasifikasi dan kesalahan administrasi. Shrinkage diukur dengan perbedaan antara Biaya persediaan yang tercatat dibuku(setelah mengoreksi kesalahan) dean Biaya inventaris ketika dihitung secara fisik. Penyusutan sering bisa menjadi ukuran penting dalam kinerja manajemen.

Safety Stock
Adalah persediaan yang diadakan setiap saat tanapa memperhatikan jumlah unit yang diperintahkan menggunakan model EOQ.
Perusahaan menggunakan safety stock sebagai penyangga terhadap unexpected peningkatan permintaan, ketidakpastian tentang leadtime dan tidak tersedianya stok.
 
Economic Order Quantity (EOQ)
Adalah jumlah pemesanan persediaan yang meminimalkan biaya persediaan (biaya pemesanan dan biaya penyimpanan).

RU = required unit (kebutuhan selama satu tahun)
CO = cost per order (biaya satu kali pemesanan)
CU = cost per unit (harga per unit)
CC = carrying cost percentage (persentase biaya penyimpanan dari harga beli)

Biaya pemesanan setahun
=
Jumlah pemesanan x biaya pesan


=



Biaya penyimpanan setahun
=
Rata-rata persediaan x biaya simpan


=




EOQ

=



Ilustrasi:
Permintaan selama satu tahun (RU) = 2.400 unit
Harga beli per unit (CU) = $0,75
Biaya pesan (CO) = $20 per order
Biaya penyimpanan = 20%



EOQ =     =    =  = 800 unit
                   

Jika ada diskon pembelian dalam jumlah tertentu maka rumus di atas tidak berlaku, harus dihitung satu per satu untuk mendapatkan jumlah pemesanan paling ekonomis.

Rumus EOQ di atas bisa diterapkan untuk menghitung jumlah produksi yang paling ekonomis, dengan keterangan sebagai berikut:

RU = required unit (kebutuhan/produksi selama satu tahun)
CO = biaya satu kali setup mesin
CU = biaya variable per unit
CC = carrying cost percentage (persentase biaya penyimpanan dari harga beli)

Kapan harus memesan? (titik pemesanan kembali / reorder  point)

Lead time = waktu dari pesan sampai barang datang (waktu tunggu)

Safety stock
=
jumlah minimal yang dipertahankan


=
(lead time max – lead time rata-rata) x kebutuhan rata-rata



Pesan barang jika jumlah persediaan (reorder point)
=
Persediaan selama lead time + safety stock


=
(Kebutuhan rata-rata x lead time) + safety stock


Ilustrasi:
Dik: Kebutuhan rata-rata : 10 unit per hari
Lead time rata-rata : 2 hari
Lead time maksimal : 3 hari

Dit: Kapan pesan?

Jawab :
Safety stock = (3 – 2) x 10 unit = 10 unit
Pesan barang jika jumlah persediaan (reorder point) = (2 x 10) + 10 unit = 30 unit

Jika persediaan yang ada 100 paket, berapa hari lagi harus memesan?

Persediaan yang ada : 100 unit
Reorder point :   30 unit
--------------------
Persediaan yang masih bisa dipakai s.d. reorder point :   70 unit

Persediaan 70 unit bisa dipakai selama 7 hari (70 : 10)
Jadi 7 hari lagi harus memesan.


Rabu, 21 November 2018

“The Cost of Quality and Accounting for Production Losses (Process Costing)“


“The Cost of Quality and Accounting for Production Losses (Process Costing)“

Internal Failure
·         Biaya produk yang rusak menjadi beban perusahaan (debet ke Factory Overhead Control).
·         Jika produk yang rusak bisa dijual, maka Hasil penjualannya di debet ke Spoiled Goods Inventory.  (FOH Control = Total cost produk rusak – Spoiled Goods Inventory)).

Ilustrasi:
Deco Pottery Company membuat gelas keramik dalam departemen yaitu departemen Molding dan Glazing.  Di departemen Molding ada proses pemanasan sehingga ada gelas yang pecah (M 100%, CC 80%).  Gelas yang pecah di departemen Molding tidak ada harga jualnya.  Gelas yang rusak pada departemen Glazing diketahui setelah proses selesai (M 100%, CC 100%).  Gelas yang sempurna dijual $2,5 per unit, yang rusak dijual $0,5 per unit.
Data bulan November:

Molding
Glazing
Units in WIP, beg. inv.          
4.000
3.000
Units started in Molding Dept.
21.000

Units transferred to Glazing Dept.
19.000

Units received from Molding Dept.

19.000
Units transferred to Finished Goods inv.

15.000
Units in WIP, end. Inv.
3.600
4.000
Units spoiled during the period
2.400
3.000


Tingkat penyelesaian WIP ending inventory

Molding
Glazing
Materials
100%
100%
Conversion Costs
30%
25%

Costs data:
WIP, beg. Inv.
Molding
Glazing
     Cost from preceding dept.

$1.396,00
     Materials
$615,00
196,00
     Labor
366,40
310,00
     FOH
549,60
310,00
Cost added to process during period


     Materials
3.885,00
1.520,00
     Labor
2.273,60
3.718,00
     FOH

3.410,40
3.718,00

I.    Average Cost Flow Assumption

A.    Departemen Molding

Langkah 1: Menghitung equivalent unit


DM

DL

FOH

Eq. units transf. out

19.000

19.000

19.000
Units in ending inv.
3.600

3.600

3.600

Tingkat penyelesaian
100%

30%

30%

Eq. units ending inv.

3.600

1.080

1.080
Units of spoilage
2.400

2.400

2.400

Tingkat penyelesaian
100%

80%

80%

Eq. units of spoilage

2.400

1.920

1.920
Total Equivalent units

25.000

22.000

22.000









Langkah 2: Membuat Cost of Production Report

Deco Pottery Company
Molding Departement
Cost of Production Report
For November, 20A

Quantity Schedule
Material
Labor
FOH
Quantity
Beginning Inventory



4.000
Started in process



21.000




25.000
Transferred to Glazing Dept.



19.000
Ending Inventory
100%
30%
30%
3.600
Lost in the process
100%
80%
80%
2.400




25.000


Cost charged to Departement
Total Cost
Eq.Unit
Unit Cost
Beginning inventory:



     Materials
$615,00


     Labor
366,40


     Factory overhead
549,60


          Total cost in beginning inv.
$1.531


Cost added during the current period:



     Materials
3.885,00
25.000
$0,18
     Labor
2.273,60
22.000
0,12
     Factory overhead
3.410,40
22.000
  0,18
          Total cost added
$9.569


Total cost charged to department
$11.100

$0,48





Cost Accounted for as follows

Units
% Comp
Eq. Unit
Unit Cost

Total Cost
Transfer to Glazing Dep
19.000
100
19.000
$0,48

$9.120,00
Spoilage charge to FOH






     Materials
2.400
100
2.400
$0,18
$432,00

     Labor
2.400
80
1.920
0,12
230,40

     Factory overhead
2.400
80
1.920
 0,18
345,60
1.008,00
WIP, ending inventory






     Materials
3.600
100
3.600
$0,18
$648,00

     Labor
3.600
30
1.080
0,12
129,60

     Factory overhead
3.600
30
1.080
 0,18
194,40
972,00
Tot. cost accounted for





$11.100,00


Jurnal untuk mencatat transfer cost dari departemen
WIP-Glazing Dept
9.120

Factory Overhead Control
1.008

     WIP – Molding Dept.

10.128

B. Departemen Glazing

Langkah 1: Menghitung equivalent unit


From Pre Dept.
Material
Labor
FOH
Eq. Units transferred out
15.000
15.000
15.000
15.000
Eq. Unit in ending inv
4.000
4.000
1.000
1.000
Eq. Unit of spoilage
3.000
3.000
3.000
3.000
Total equivalent unit
22.000
22.000
19.000
19.000

Langkah 2: Membuat Cost of Production Report

Deco Pottery Company
Glazing Departement
Cost of Production Report
For November 20A

Quantity Schedule
Material
Labor
FOH
Quantity
Beginning Inventory



3.000
Started in process



19.000




22.000
Transferred to FG



15.000
Ending Inventory
100%
25%
25%
4.000
Lost in the process
100%
100%
100%
3.000




22.000

Cost charged to Departement
Total Cost
Eq. Unit
Unit Cost
Beginning inventory:



     Cost from preceding department
$1.396


     Materials
196


     Labor
310


     Factory overhead
310


          Total cost in beginning inv.
$2.212


Cost added during the current period:



     Cost from preceding department
$9.120
22.000
$0,478
     Materials
1.520
22.000
0,078
     Labor
3.718
19.000
0,212
     Factory overhead
3.718
19.000
0,212
          Total cost added
$18.076


Total cost charged to department
$20.288

$0,980




Cost Accounted for as follows

Units
% Comp
Eq. Unit
Unit Cost

Total Cost
Transfer to FG inv
15.000
100
15.000
$0,98

$14.700
Trans to Spoiled G inv
3.000


$0,50

1.500
Spolage charge to FOH:






   Cost of spolage unit
3.000
100
3.000
$0,98
2.940

   Less salvage value
3.000


$0,50
1.500
1.440
WIP, ending inv.






   Cost from pre Dep
4.000
100
4.000
$0,478
1.912

   Materials
4.000
100
4.000
0,078
312

   Labor
4.000
25
1.000
0,212
212

   Factory overhead
4.000
25
1.000
0,212
212
2.648
Tot. cost acc. For





$20.288

Jurnal untuk mencatat transfer cost dari departemen

Finished Goods inventory
14.700

Spoilage Goods inventory
1.500

Factory Overhead Control
1.440

     WIP – Glazing Dept.

17.640


A.   Normal Production Shrinkage

Contoh pada proses pembuatan sirup di Sweet-Stuff Company.  Proses dimulai di departemen Cooking berupa pemanasan air gula sehingga ada penguapan (air berkurang).  Kemudian ditransfer ke departemen Bottling.

Berikut ini data Departemen Cooking pada bulan Pebruari:

Gallons in Work in Process beginning inventory
4.000
Gallons started in process in Cooking Dept.
26.000
Gallons transferred to Bottling Departement
5.000
Gallons in Work in Process, ending inventory
5.000
Gallons lost in the process during the period
5.000

Tingkat penyelesaian WIP end. Inv.
Materials
100%
Labor
25%
FOH
25%

Costs data:
WIP, beg. Inv.

     Materials
$5.450
     Labor
535
     FOH
1.070
Cost added to process during period

     Materials
32.550
     Labor
7.540
     FOH
15.080

Departemen Cooking

Langkah 1: Menghitung equivalent unit



Material

Labor

FOH
Eq. Units transferred out
20.000
20.000
20.000
Eq. Unit in ending inv
5.000
1.250
1.250
Total equivalent unit
25.000
21.250
21.250

Langkah 2: Membuat Cost of  Production Report

Sweet-Stuff Company
Cooking Departement
Cost of Production Report
For Pebruarl, 20A

Quantity Schedule
DM
DL
FOH
Q
Beginning Inventory



4.000
Started in process during the period



26.000




30.000
Transferred to Bottling Dept.



20.000
Ending Inventory
100%
25%
25%
5.000
Units lost in the process



5.000




30.000
Cost charged to Departement
Total Cost
Eq.Unit
Unit Cost
Beginning inventory:



     Materials
$5.450


     Labor
535


     Factory overhead
1.070


          Total cost in beginning inv.
$7.055


Cost added during the current period:



     Materials
$32.550
25.000
$$1,52
     Labor
7.540
21.250
0,38
     Factory overhead
15.080
21.250
0,76
          Total cost added
$55.170


Total cost charged to department
$62.225

$2,66





Cost Accounted for as Follows

Units
% Comp

Eq. Unit
Unit Cost


Total Cost

Transfer to Canning Dept.
20.000
100
20.000
$2,66

$53.200

WIP, ending inv.







   Materials
5.000
100
5.000
$1,52
$7.600


   Labor
5.000
25
1.250
0,38
475


   Factory overhead
5.000
25
1.250
0,76
950
9.025

Total cost accounted for





$62.225

Jurnal:
WIP – Bottling Dept.
53.200

     WIP – Cooking Dept.

53.200


II. Process Costing with a Fifo Cost Flow Assumption
Data idem pada asumsi Average dengan tambahan tingkat penyelesaian WIP beginning inv:


Molding
Glazing
Materials
100%
100%
Conversion cost
60%
70%
A. Departemen Molding
Equivalent unit
Material
Labor
FOH
Eq. unit to complete beg. Inv
0
1.600
1.600
Eq. unit started and completed
15.000
15.000
15.000
Eq. unit ending inv
3.600
1.080
1.080
Eq. unit of spoilage
2.400
1.920
1.920
Total
21.000
19.600
19.600





Langkah 2: Membuat Cost of Production Report

Deco Pottery Company
Molding Departement
Cost of Production Report
For January, 2004


Quantity Schedule
Material
Labor
FOH
Quantity

Beginning Inventory
100%
60%
60%
4.000

Started in process



21.000





25.000

Transferred to Ass. Dept.



19.000

Ending Inventory
100%
30%
30%
3.600

Lost in the process
100%
80%
80%
2.400





25.000

Cost charged to Departement
Total Cost
Eq. Unit
Unit Cost

Beginning inventory:




     Materials
$615,00



     Labor
366,40



     Factory overhead
549,60



          Total cost in beginning inv.
$1.531,00



Cost added during the current period:




     Materials
$3.885,00
21.000
$0,185

     Labor
2.273,60
19.600
0,116

     Factory overhead
3.410,40
19.600
0,174

          Total cost added
$9.569,00



Total cost charged to department
$11.100,00

$0,475








Cost Accounted for as Follow:

Units
% Comp
Eq. Unit
Unit Cost

Total Cost
Transfered to Ass. Dept.:






   From beginning inv:




$1.531,00

      Cost to complete:






        Labor
4.000
40
1.600
$0,116
185,60

        Factory overhead
4.000
40
1.600
0,174
278,40
$1.995,00
   Started and completed
15.000
100
15.000
$0,475

7.125,00
   Total cost transfered





$9.120,00
Spoilage charged to FOH C






     Materials
2.400
100
2.400
$0,185
$444,00

     Labor
2.400
80
1.920
0,116
222,72

     Factory overhead
2.400
80
1.920
0,174
334,08
1.000,80
WIP, ending inventory






     Materials
3.600
100
3.600
$0,185
$666,00

     Labor
3.600
30
1.080
0,116
125,28

     Factory overhead
3.600
30
1.080
0,174
187,92
979.20
Tot. cost accounted for





$11.100,00

Average cost (Biaya rata-rata) = cost added / equvalent unit
Jurnal:
WIP – Glazing Dept.
9.120,00

FOH Control
1.000,80

     WIP – Molding Dept.

10.120,80

B. Departemen Glazing
Langkah 1: Menghitung eq. unit untuk Biaya yang ditambahkan pada periode sekarang

From Pre. Dep.
Material
Labor
FOH
Eq. unit to complete beg. Inv
0
0
900
900
Eq. unit started and completed
12.000
12.000
12.000
12.000
Eq. unit ending inv
4.000
4.000
1.000
1.000
Eq. unit of spoilage
3.000
3.000
3.000
3.000
Total
19.000
19.000
16.900
16.900






Langkah 2: Membuat Cost of Production Report.

Deco Pottery Company
Glazing Departement
Cost of Production Report
For January, 2004

Quantity Schedule
Material
Labor
FOH
Quantity
Beginning Inventory
100%
70%
70%
3.000
Started in process



19.000




22.000
Transferred to Ass. Dept.



15.000
Ending Inventory
100%
25%
25%
4.000
Lost in the process
100%
100%
100%
3.000




22.000
Cost charged to Departement
Total Cost
Eq. Unit
Unit Cost
Beginning inventory:



     Cost from preceding departemen
$1.396


     Materials
196


     Labor
310


     Factory overhead
310


          Total cost in beginning inv.
$2.212


Cost added during the current period:



     Cost from preceding departemen
$9.120
19.000
$0,48
     Materials
1.520
19.000
0,08
     Labor
3.718
16.900
0,22
     Factory overhead
3.718
16.900
0,22
          Total cost added
$18.076


Total cost charged to department
$20.288

$1,00





Cost Accounted for as Follow:
Units
% Com
E.Unit
Un Cost

Total Cost
Transfered to Ass. Dept.:






   From beginning inv:




$2.212

      Cost to complete:






        Labor
3.000
30
900
$0,22
198

        Factory overhead
3.000
30
900
0,22
198
$2.608
   Started and completed
12.000
100
12.000
1,00

12.000
   Total cost transfered





$14.608
Tranf. to Spoilage Good Inv
3.000


$0,50

1.500
Spolage charged to FOH






   Cost of spoilage unit
3.000
100
3.000
$1,00
$3.000

   Less Salvage value of SG
3.000


0,50
1.500
1.500














WIP, ending inventory






     From beginning inv
4.000
100
4.000
$0,48
$1.920

     Materials
4.000
100
4.000
0,08
320

     Labor
4.000
25
1.000
0,22
220

     Factory overhead
4.000
25
1.000
0,22
220
2.680
Tot. cost accounted for





$20.288

Jurnal:
Finished Goods Inventory
14.608

Spoiled Goods Inventory
1.500

FOH Control
1.500

     WIP – Glazing Dept.

17.608

C.  Normal Production Shrinkage
Contoh idem pada Average dengan tingkat peny. beg. inv: Material 100%, CC 70%.
Langkah 1: Menghitung eq. unit untuk Biaya yang ditambahkan pada periode sekarang

Material
Labor
FOH
Eq. unit to complete beg. Inv
0
1.600
1.600
Eq. unit started and completed
16.000
16.000
16.000
Eq. unit ending inv
5.000
1.250
1.250
Total
21.000
18.850
18.850

Langkah 2: Membuat Cost of Production Report.

Sweet-Stuff Company
Cooking Departement
Cost of Production Report
For February, 20A

Quantity Schedule
Material
Labor
FOH
Quantity
Beginning Inventory



4.000
Started in process during the period



26.000




30.000
Transferred to Bottling Dept.



20.000
Ending Inventory
100%
25%
25%
5.000
Units lost in the process



5.000




30.000
Cost charged to Departement
Total Cost
Eq.Unit
Unit Cost
Beginning inventory:



     Materials
$5.450


     Labor
535


     Factory overhead
1.070


          Total cost in beginning inv.
$7.055


Cost added during the current period:



     Materials
$32.550


     Labor
7.540


     Factory overhead
15.080


          Total cost added
$55.170


Total cost charged to department
$62.225







Cost Accounted for as Follow:

Units
% Comp
Eq. Unit
Unit Cost


Total Cost
Transfered to Ass. Dept.:






   From beginning inv:




$7.055

      Cost to complete:






        Labor
4.000
40
1.600

640

        Factory overhead
4.000
40
1.600

1.280
$8.975
   Started and completed
16.000
100
16.000


44.000
   Total cost transfered





$52.975
WIP, ending inventory






     Materials
5.000
100
5.000

$7.750

     Labor
5.000
25
1.250

500

     Factory overhead
5.000
25
1.250

1.000
9.250
Tot. cost accounted for





$62.225

Jurnal untuk mencatat transfer cost dari departemen Cooking ke departemen Bottling:
WIP – Bottling Dept.
52.975

     WIP – Cooking Dept.

52.975